Minggu, 02 April 2017

Bandung! Here We Come!

I never expected that my life would be like this. Me and my husband are living in Bandung right now! WOW!!!

We ever talked about this choice, but we never expected this chance would came so fast. After one year of our marriage, my husband decided to move to Bandung and moved to another job. Unfortunately, the company of my husband, not very fabulous like before. This is only small company, running company. We didn't have any expectation and we really resigned about the money.

Here we go! We live in Bandung for almost one month! Yeay! Here are the differences between before and after conditions:

1. Lifestyle

My Husband: Every morning and evening, my husband had to fight for traffic every time we go to the our office. Even though me always accompany my husband in the car. He sometimes complain about the traffic and time that had been wasted too much.

Me: Of course I have to wake up early every morning to prepare the food for breakfast and packed for lunch. I had to wake earlier than my husband. The worst case is that i had to follow my husbands working hours. zad

2. See each other face everyday

Okay! This is the best part! Every time i wake up, and go to sleep, i can see my partner's face. SWEET right? My husband can comfort me every time. YIHAAAAY.

3. Sad Part

My husband's job-desk is not only come to the office, but have to work in the field too. He leave me for days. I have to flee to my mother/father in law's house. Huaaahhhh.

And I miss him so badly. He was in Kalimantan for one week and still counting :(

This house is not feel the same when my husband was not around. uhuhuhuhuhuhuhu

When will you come home hon? huft.

Dilemaaaaaaaaaaaaa

But, thank you for fighting for us berebeb! I know this is the hard choice. But you are the brave and responsible father! thank you for coming to us! I hope Alloh SWT will always bless you. AAAMMMIIIINNNN!

I love you berebeb :)

Minggu, 08 Januari 2017

Nipple Confusion (Bottle Is Banned For Baby)

Pernah berdebat dengan ibu-ibu mengenai penggunaan botol terhadap bayi yang akan mengakibatkan bayi kebingungan untuk membedakan antara puting dan botol?

Silakan teman-teman baca jurnal of perinatology ini yang akan membuka pikiran anda,

http://www.nature.com/jp/journal/vaop/ncurrent/full/jp201583a.html

Jurnal ini menceritakan perdebatan penggunaan pacifier/empeng dan dot. Perdebatan emak-emak di lingkungan saya mengatakan bahwa empeng itu tidak boleh digunakan, begitupun dengan dot. kalo empeng katanya akan mengubah bentuk gigi (belum saya klarifikasi lagi dengan mencari faktanya), dan dot menyebabkan anak sulit membedakan mana yang puting dan mana yang dot.

Akan tetapi, menurut jurnal yang ditulis oleh E Zimmerman and K Thompson, menyimpulkan dari berbagai macam penelitian yang terkait dengan nipple confusion untuk penggunaan dot dan pacifier, bahwa ternyata penelitian yang menyatakan bahwa pacifier tidak bermasalah dengan kebingungan anak terhadap nipple itu lebih banyak dibandingkan penelitian yang menyatakan bermasalah. sedangkan, penelitian yang membahas penggunaan dot, yang mengakibatkan anak bingung dengan puting emaknya itu jauh lebih banyak daripada yang menyatakan bahwa tidak berpengaruh terhadap kebingungan membedakan puting.

AKAN TETAPI, penelitian terkait penggunaan dot harus diteliti ulang dengan variabel baru yaitu mengenai latch on/menempelnya anak pada puting. Karena posisi menempelnya anak pada puting ibu sangat mempengaruhi dalam kebingungan anak untuk membedakan antara puting atau dot.

Jadi, para ibu-ibu, daripada berdebat untuk masalah penggunaan dot dan empeng, posisi menyusui anak yang benar itu sangat mempengaruhi proses menyusui anak. Itulah hal yang paling penting. Jangan sampai melarang working mom untuk menggunakan dot padahal faktanya masih diperdebatkan, atau menambahkan variabel-variabel lain yang membuat ibu-ibu lain galau saat menggunakan dot padahal itu hanya asumsi ibu-ibu saja yang kurang pengetahuannya.

Tolonglah share informasi dengan bijak. Jangan menambahkan informasi dan mengurangi informasi, kalau tidak tahu apa penyebab dan solusinya, jangan sok tahu. lebih baik menceritakan pengalaman ibu-ibu sekalian daripada sok tau melarang atau membolehkan sesuatu yang sebenarnya ibu-ibu tidak pernah lakukan dan hanya mendengar desas desus dari tetangga atau pekerja kesehatan yang mereka juga memiliki pro dan cons sendiri. oke?

Senin, 29 Agustus 2016

Happy-Family-Money

Everyone say that pregnant woman has to be happy.

But right now, i really don't know how to do it.

I think care is what i need the most right now since my family and my husband is living in other city. Especially when you choose someone who is ignorant to share your love. And the other side, there are people who has their own issues, must be struggle with their problem and their favorite through the money.

Oh yeah, i am all by my self. Thank you for remind me over and again.

Minggu, 28 Agustus 2016

Killing Us




Pride.
Your pride is killing us.


Please, be more realistic? please :)

Kamis, 30 Juni 2016

Nguping

Saya dan teman saya kepengen makan baso, kami pun makan baso columbia di deket kampus.
ada dua orang bapak-bapak yang lagi berdiskusi serius, saya mikir, kayaknya saya kenal. temen saya nanya sambil bisik-bisik,

"itu profesor X bukan ya?
"kayaknya deh, kayak iya tapi bukan, tapi iya"

lalu saya browsing ke mbah google. terus nemu gambarnya si prof X, langsung nunjukkin ke temen saya,

"sama ga sih mukanya? bener prof X bukan?"
"ga tau juga"

lalu kami makan sambil nguping obrolan dua bapak itu. lalu kami sepakat itu adalah prof X. yaudah kami lanjut makan sambil tetep nguping dan ngobrol sambil nguping. dua bapak-bapak tadi selesai makan, temen saya senyum aja terus ke prof X itu, kalo saya ga bisa kasih senyuman maut, soalnya saya duduk menghadap ke tembok.

selesai makan, kami bayar. tapi bapak kasirnya malah nanya,

"kenal sama prof X ya?"
"eeerrrr... ga kenal sih, tapi tau. jadi totalnya berapa pak?
"sudah dibayar sama pak prof X tadi"

"..."

kami melongo. kok bisa dibayarin? padahal beliau kayaknya ga kenal kami. walopun saya pernah berinteraksi sebentar sama beliau yang dalam kondisi waktu itu ga yakin prof X ini bakalan inget saya, apalagi dengan tampilan saya yang berubah, karena saya sekarang kerudungan, kalo dulu engga.

bahkan sampe keluar dari tempat makan itu kami masih dalam kondisi melongo bingung. tapi terimakasih ya pak, sudah mentraktir kami walopun masih yakin beliau ga mungkin kenal sama kami yang apalah kami ini dibandingkan bapak yang prof nya udah melegendaris di kampus. ehehehe.

Survival

Seseorang bertanya ke saya untuk memilih program PhD based on project atau program regular yaitu dimana ada training dan mempersiapkan untuk menjadi peneliti lihai.

"menurut lo, saya lebih cocok yang mana?"
"kalau kata gue, lo lebih cocok yang regular. lo lebih cocok dibimbing."

jadi, saya lebih cocok ambil yang regular yang pake training dulu katanya. saya memang ga se-pede itu sih untuk bisa bersaing dengan orang-orang expert di dunia dengan kemampuan saya yang sekarang. curiga bakalan keteteran. saya ga protes kalo dibilangin gitu. sedangkan kalau nanya temen-temen saya yang pada hebat-hebat banget, mereka pasti lebih milih yg PhD based on project, jelas digaji, mandiri, dan deadlinenya jelas. saya? jelas ga pede nya. hahahaha

lalu si teman yang bilang saya lebih cocok ke regular, tiba-tiba menambahkan.

"lo itu anaknya survival banget"

ciyeeeeee, secara ga langsung saya dibilang tough gitulah. padahal kalau saya pikir, sebenernya saya bisa survive di dunia kerja sekarang ini karena saya punya teman-teman yang pada hebat-hebat banget. saya ga iri dan ga kepengen menjatuhkan mereka yang hebat-hebat ini, kecuali saya iri kalau mereka bisa jalan-jalan dan tinggal beberapa lama di luar negeri, saya jelas banget iri nya tapi yaudah iri aja gitu kepengen kayak mereka yang hebat-hebat ini. tapi semakin mereka hebat, semakin bahagialah saya, secara ga langsung imbas ke sayanya kan juga enak. ya kan?

pintu rejeki itu terbuka lebar saat kita menjalin hubungan silaturahmi kepada sesama. rejeki ga melulu soal uang. rejeki itu bagi saya adalah sesuatu yang bikin saya bahagia. didengerin kalo cerita, saya bahagia, ditemenin belanja saya bahagia apalagi sampe dibelanjain, diajarin knowledge, saya bahagia, bahkan tugas akhir dan tesis saya juga kolega dan teman ikut berpartisipasi dalam kesuksesannya. dan selama ini teman-teman yang berpartisipasi dalam kehidupan saya itu hebat-hebat semuanya. Alhamdulillaaaahhh.

apalagi proses mencari sekolah laginya ini, banyak teman saya yang hebat-hebat ikut bantu-bantu dan memberi saran untuk saya. Jadi, maaf-maaf aja ya sayanya ngerepotin mulu, habisnya saya ga pede gitu loh, dan mereka itu adalah teman-teman yang kapabilitasnya luar biasa di atas saya dan di atas rata-rata banget. hehehehe. makasih ya. saya bantuin doa aja biar pada sukses-sukses semuanya. Amiinnnn

Minggu, 26 Juni 2016

Ternyata Suami Saya Laki-Laki dan Saya Wanita

Saya lagi sakit gigi karena habis operasi gigi lalu marah-marah sama suami karena ga diperhatiin.

*habis protes sama suami di telpon gara-gara ga khawatir sama kondisi istri yang baru operasi

"lho, aku ga khawatir soalnya aku tau itu ga bahaya, apalagi aku tau kamu kan operasinya di RSKG*. kecuali kamu operasinya di dokter abal-abal baru khawatir"

*saya mewek*

lalu suami saya gajadi marah-marah soalnya istrinya mewek. trus nanya kenapa saya mewek

"aku kan ngerasa apa-apa sendirian jadinya dan blablabla"
"makanya dulu habis nikah, kamu aku bawa soalnya tau kamu itu gabisa sendiri dan blablabla"

jadinya malah merembet ngatain saya ga ikhlas dan blablabla. saya selalu merasa suami saya ini jenius karena bisa bikin saya terpojok.

"emang kamu seneng kalo akunya ngapain?"
"ngasih yang aku butuh"
"kamu butuh apa?"
"yaaa yang dibutuhin"
"kalo aku mikirnya kayak kamu, mikirin aman doang, aku ga akan bangunin kamu saur walopun aku ga saur karena aku tau kamu pasti nanti dibangunin bayu, aku ga akan ngirimin makanan buat kamu saur karena kamu bisa beli, aku ga akan nungguin kamu pulang tengah malem karena tau ada orang tua kamu yang bukain pintu, aku ga akan cancel semua jadwal aku kalo kamu pulang karena kamu bisa sendiri. itu yang kamu butuhin bukan?"
"iya sih...ya trus yang kamu butuhin apa? nelpon kamu? kan tiap hari aku nelpon, dan emang pas kebetulan kmrn aku lagi ga bisa provide itu"
"kan bisa watsap"
"aku kalo watsapan sama kamu harus butuh konsentrasi tinggi dan gabisa sebentar doang"
"emang apa susahnya sih nyisihin waktu 1 menit di sela-sela pergantian aktivitas yang cuma sebaris doang paling nanya, kamu masih sakit, kamu lagi dimana, kamu dan kamu syalalala, masa ga bisa? yang ga harus kamu tungguin hpnya nunggu aku bales lalu kamu bales lagi. toh aku juga ga pernah gangguin kamu di jam kerja kamu"
"ooo... ternyata aku cowo banget ya"

lalu suami saya minta maaf dan jadi ngerti maksud saya selama nyaris 4  tahun saya bawel minta perhatian kecil yang akan saya bahas berulang-ulang ketika kami menjalani LDR.

*lalu kami tertawa terbahak-bahak karena kebodohan kami*

jadi, saya ini ga pernah pake signal-signal yang membebani suami saya harus mikir apa maksud saya dan keinginan saya karena selalu saya katakan to the point apa maksud dan keinginan saya supaya ga salah tangkep, tapi baru 4 tahun kemudian si suami saya ini ngerti apa maksudnya. kebayang ga kalo saya harus pake signal-signal doang dan ga to the point? kayaknya sampe kiamat juga ga akan paham deh.

saya ini wanita yang gila dengan perhatian kecil, yang bodoh dengan menganggap ditanya itu adalah bentuk perhatian yang saya butuhkan selama LDR. rasanya ditanya kabar sekali sehari itu kayak menang dapet emas 24 karat, undian 1 milyar, dan segala materi yang diimpikan oleh wanita lainnya. dan suami saya baru paham setelah berpacaran 3 tahun dan 10 bulan menikah. ironis sih.

lalu beberapa hari setelahnya, saya selalu senyum-senyum liat hape, soalnya suami saya melakukan apa yang tidak biasa dia lakukan. terimakasih ya, sudah mau menikahi saya :)