Minggu, 07 Agustus 2011

mengenang

ceritanya saya punya teman baik laki-laki. sebut saja namanya manusia berantena. jadi manusia berantena ini sangat berbeda dengan saya. dari segi kepribadian maupun kelakuannya.


manusia berantena ini mempunyai kepribadian melankolis dan sanguinis. jadi baru-baru ini kepribadian melankolisnya sedang timbul sehingga dia menjadi galau-galau ga penting. sedangkan saya mempunyai kepribadian sanguinis dan koleris. ah iya ini yang sama, kami sama-sama sanguinis :)


secara prinsip, dan pemikiran jaman dahulu, kami sangat berbeda.
manusia berantena ini suka sekali berpetualang mencari teman sebanyak-banyaknya. tapi tidak fokus dengan satu kelompok saja. sedangkan saya fokus dengan satu kelompok saja.
waktu dia tingkat 2 dan 3, dia fokus sama kuliah. sedangkan saya fokus dengan mencetak kenangan sebanyak-banyaknya bersama teman.
lalu kami dipertemukan dengan masa yang sama. masa jenuh.
sehingga akhirnya kami mengambil kesimpulan.
"rumput tetangga selalu lebih hijau"


jadi ingat waktu saya SD kelas 3, saya sangat ingat dengan tragedi "rumput tetangga selalu lebih hijau"
jadi ceritanya waktu itu, mama saya, saya, dan kakak-kakak saya sedang berkumpul sore sekedar berbincang-bincang dan menonton TV. saat iklan tiba, kakak saya yang kedua bercerita mengenai kondisi sekolahnya di SMP kelas 1 tersebut. saya lupa ceritanya itu mengenai apa. tapi yang saya ingat adalah ibu saya berkata "rumput tetangga memang selalu lebih hijau, dan bla bla bla"
saya yang masih tidak tahu apa-apa hanya terheran-heran. dan bertanya "memang iya mah?"
dan kakak saya malah menjawab "iya juga ya mah"
lalu karena saya penasaran, maka saya berlari keluar rumah dan membandingkan rumput halaman depan rumah saya dengan rumah pak Pi'i yang notabenenya adalah tetangga saya.
lalu saya kembali ke dalam rumah dan berkata dengan pede nya "mamah salah. rumah pak Pi'i itu rumputnya lebih jelek dari kita. bahkan nyaris ga ada rumputnya mah!"


setelah saya semakin dewasa, akhirnya saya mengerti maksud dari kiasan "rumput tetangga memang selalu lebih hijau". pantas saja waktu itu mama saya dan kakak-kakak saya yang super jail itu cuma tertawa terbahak-bahak. dan mama saya mencium saya dengan gemes. dan saya hanya anak kecil yang berasa orang tua yang sok-sok mengerti malah menggurui mama saya dan bilang "mama salah. coba deh mama liat ke depan." dan tidak digubrislah itu omongan saya. mama saya berusaha menerangkan berkali-kali, tapi memang dasar anak kecil. otak saya belum sampai ke situ. mungkin memang kosa kata yang saya pahami masih sangat sedikit.


saya sayang mama :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar