Jumat, 20 Januari 2012

hanya ada dalam sinetron

Untuk kesekian kalinya saya menonton drama film seri korea FULL HOUSE. Tentu dong pasti semuanya masih pada inget. film drama yang bikin seneng, bikin iri, bikin nangis, dan membuat emosi si penonton dipermainkan. Cuma film full house ini yang membuat emosi saya labil selabil anal SMP jaman sekarang.

Entah kenapa di film seri drama korea ini adegan-adegannya membuat seakan-akan hal itu memang benar-benar nyata. menurut saya aktor dan aktrisnya ini pasti mahal-mahal. soalnya aktingnya bikin penonton terenyuh, seakan-akan ini bukanlah sinetron.

adegan sweet antara si hanjieun dengan yong-ji itu berasa memang sweet. adegan sedih yang menyayat-nyayat hati juga penonton ikutan ngerasain. adegan konyol yang bisa bikin ketawa kepingkel-pingkel juga sangat menghibur. ini film seri drama korea sepanjang masa sih menurut saya. kalo winter sonata khusus banget buat penonton-penonton yang pengen nangis. soalnya emang bener-bener menyedihkan dari awal hingga ending. beda tipe kalo menurut saya. tapi sama-sama bagus. tergantung minat penonton.




sayangnya, semua hanya ada di dalam film.
pertemuan kebetulan antara hanji-eun dengan li yong-ji. kawin kontrak antara orang biasa dengan artis.
dan kehidupan happy ending.

saya tidak percaya lagi dengan kehidupan yang berjalan dengan happy ending. walaupun dulu sempat saya percayai hingga beberapa waktu yang lalu.

tapi ada yang nyata dalam film ini. kejadian nyata di kehidupan manusia sebenarnya. beberapa kasus yang sering terjadi dalam kehidupan nyata :

witting tresno jalaran saka  kulino.
cinta datang karena terbiasa.

Hyewon, si tokoh wanita antagonis yang berubah menjadi protagonis yang tidak mau hidup sendirian.
tidak sedikit kejadian seperti ini. wanita yang tidak mau hidup sendirian. berusaha mempertahankan fans, walaupun dia tidak punya hati dengan fans nya tersebut.

Min-Hyuk, si tokoh laki-laki yang tidak mau kalah dengan li yong-ji dalam hal memperebutkan han ji-eun
tidak sedikit juga kejadian seperti ini. laki-laki itu gengsinya selangit. ibarat kata, laki-laki selalu ingin menjadi yang pertama untuk mendapatkan mainannya. Jadi berebut mainan itu bagi laki-laki itu sudah biasa demi mempertahankan gengsi.

tapi kenapa dalam kehidupan nyata, justru kebanyakan hal-hal jeleknya sih.
ah happy ending ya?
is it real?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar