Kamis, 09 Agustus 2012

slow, damai, positif, apa lagi?

banyak orang mengeluh tentang kelabilan mereka setelah mereka mendapatkan gelar sarjana mereka.
lucu ya. sebagian orang berpendapat bahwa kelabilan itu hanya ada untuk adan di bawah umur atau remaja atau remaja menuju dewasa.
labilnya bukan seperti yang kita lihat pada anak-anak SMP atau SMA yang lagi in banget untuk masalah pergaulan. bukan itu sih labil yang dialami para sarjana baru. lebih tepatnya labil akan masa depan, labil orientasi hidup, labil akan passion mereka.

ya, mereka berkeluh kesah ini itu dan yang lain. di depan saya.
otomatis saya mendengarkan toh. berusaha menjadi pendengar yg baik walaupun mungkin ada juga yang tidak sependapat bahwa saya adalah pendengar yg baik. dan banyak juga yang tidak sependapat bahwa saya bukanlah pendengar yg baik. oke sih menurut saya. karena memang rasanya gatel atau mungkin bisa demam tinggi kalau saya pengen ceramah tapi ga keluar. jadi sebisa mungkin saya pake salep mulut biar ga gatel ceramahnya keluar.

tapi, disaat saya tidak berkata apa-apa, cuma senyum bilang "iya" atau bilang "ooo" atau sekedar memberikan tanggapan positif atau sekedar bertanya dan tidak ambil pusing, tidak sharing akan masalah kelabilan saya, mereka akan bilang,

"mbak nih anaknya slow banget" (santai dalam menjalani hidup)
"hidup lo tuh damai banget kayaknya" (melihat kehidupan saya setelah lulus)
"lo anaknya positif banget deh" (disaat saya berapi-api membangkitkan semangat)
daaaan sebagai-sebagainya

ohya?betulkah?

mereka hanya tidak tahu kekhawatiran saya yang membuat saya autis hanya untuk sekedar terlihat ceria tanpa beban (lagi) begitu muncul di permukaan.
lagipula memangnya untuk apa toh tau?

dulu, saya bisa curhat mengenai apapun dengan siapapun. entah kenapa rasanya skrg sulit sekali untuk merangkai kata-kata sekedar meluapkan curahan hati yang entah harus saya bagi kemana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar