Selasa, 08 April 2014

Edisi insaf

Dikarenakan obsesi saya ingin menjadi istri yang baik dan solehah di suatu hari nanti, jadinya saya browsing-browsing mengenai kewajiban, hak istri. dan dari sekian banyak hal yang bisa disimpulkan adalah BERSYUKUR! intinya sebagai wanita itu harus bersyukur dengan menerima kondisi dan pemberian si laki-laki. berat ya jadi wanita? hahahahaha

tapi sebenarnya kewajiban suami itu jauh lebih berat lagi. karena harus bisa menjadi pemimpin keluarga. it means mereka si para lelaki calon bapak ini harus bisa memberi nafkah dan mendidik istri serta anak di jalan yang baik.

makanya wajar kalau diberi kemampuan yang setingkat lebih daripada wanita.

tapi, pada kenyataannya, selama ini menjadi terbalik-balik dan fenomena perceraian karena ketidak cocokan ini banyak terjadi dimana-mana. sebenarnya akar permasalahannya adalah berada pada:
1. istri yang tidak bersyukur
2. suami yang tidak bisa memimpin

bahkan pernah diriwayatkan bahwa wanita seringkali berbicara, "kamu itu memang tidak pernah memberikan saya apa-apa", ini hal yang bakalan sering istri ucapkan ketika dihadapkan pada suatu situasi tidak puas terhadap perlakuan dan pemberian si suami. padahal sebelumnya banyak sekali pemberian yang baik dari suami kepada istri.

dan bedanya, pemimpin yang baik dan yang tidak, adalah cara menghadapinya. yang baik adalah para suami ini bisa menahannya dan menasihati istri dan mendidiknya agar tidak menjadi seperti itu, sedangkan yang tidak baik malah ikutan emosi dan mencela sang istri kemudian memarahinya dengan kasar.

dari hasil pencarian saya, dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. artinya sebenarnya sangat dalam, yaitu perasaan wanita sangatlah lembut. sehingga apabila diperlakukan kasar, maka tidak heran maka si wanita bukannya menurut, tapi malah marah-marah.

jadi, menurut pendapat saya pribadi, bahwa istri akan menjadi istri yang patuh dan bersyukur ketika suami mampu membimbing dengan baik.
tapi dikatakan pula bahwa wanita adalah ujian yang bisa menyesatkan. jadi, jika merasa sudah menjadi pemimpin yang baik, lalu si istri tidak bisa juga kembali ke jalan yang ditunjukan, maka tidak apa jika diceraikan, tetapi jika belum bisa menjadi pemimpin yang baik, menyalahkan dan mencela itu menunjukan bahwa akhlak si suami ini tidaklah baik.

dan yang paling membingungkan di sini adalah ketika wanita sudah patuh dan bersyukur sehingga bisa menerima dengan ikhlas kelakuan suami, tapi ternyata suami tidak bisa menjadi pemimpin yang baik. apa yang harus dilakukan?
jika mau dan kuat, maka teruskanlah seperti itu, dan jika Alloh mengijinkan suami akan menjadi baik, maka terjadilah, tapi jika tidak, maka balasan kebaikan lainpun insyaAlloh akan datang yang entah kapan dan dimana dan manusia tidak ada yang tahu.
jika sudah tidak mau lagi, maka berhaklah si istri menceraikan suami ketika kewajiban suami tidak lagi terpenuhi.

tapi menurut teori aksi reaksi yang saya anut,
apa yang kita tanam, itu pula yang kita tunai.

jadi intinya bersabar, bersyukur, dan mnegkoreksi diri.
insyaAlloh dengan niatan baik, maka hasilnyapun akan baik.

jadi, kalaupun hasilnya tidak baik, maka yang baik pun akan datang di kemudian hari.
ikhlas saja yaaa *edisi mama dede

*sepertinya semua wanita pasti memimpikan ingin menjadi istri Rosullulloh saw. karena dari hasil yang saya baca, beliau betul-betul memperlakukan istrinya dengan sangat baik sekali, bahkan selalu menyempatkan bersenda gurau dan sabar mendengarkan istrinya. so sweeeeeeeet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar