Sabtu, 05 April 2014

Lika-Liku Hidup

Suatu saat saya dihadapkan oleh suatu kondisi dimana saya harus bersikap netral dengan perseteruan kedua belah pihak yang sama-sama keras. Karena setidaknya saya bisa memaklumi kedua sudut pandang yang sangat bertolak belakang ini.

Kedua belah pihak ini adalah seorang anak laki-laki dan seorang bapak.
secara tidak langsung anak laki-laki ini mewarisi penuh sifat bapaknya. sehingga perseteruan perbedaan sudut pandang ini terjadi dan cenderung memarah.

Tetapi yang paling saya sesalkan adalah ketika rasa marah dan kecewa tersebut sangat mempengaruhi manusia sehingga secara tidak sadar mereka menyakiti perasaan mereka sendiri dan orang lain. Tapi saya, sebagai pihak penonton yang turut merasakan rasa sakit mereka itu, tidak bisa melakukan apa-apa. kenapa?

karena ketika masalah itu berada pada hati manusia, saya sebagai manusia tidak bisa melakukan apa-apa, karena hanya Alloh yang dapat merubah atau menenangkan hati mereka.

Jadi, ketika saya berada pada permasalahan yang tidak bisa menemukan solusi dan harus bertindak seolah-olah tidak memihak siapapun agar tidak ada yang tersakiti itu, ternyata sulit.

Tapi, hal yang paling membuat saya sedih adalah ketika seorang anak sangat keras berusaha untuk membuktikan sesuatu hingga melakukan tindakan yang menurut saya sangat menyakiti hati bapaknya. dan saya di pihak yang tidak bisa melakukan apa-apa, hanya berdoa semoga sang anak cepat disadarkan dan sang bapak dikuatkan hatinya untuk tidak secara tidak sadar mengumpat buruk dalam hati.

karena semarah apapun kita pada orang tua, kita hanyalah anak yang tidak pernah boleh menyakiti orang tua yang sangat menyayangi kita. bahkan untuk sekedar menyakiti perasaan orang lain saja itu sangat berbahaya, apalagi seseorang yang sangat menyayangi kita sepanjang masa.

Karena saya merasakan betul, bahwa jalan saya itu sangat tidak mudah ketika saya membuat orang lain tersakiti, maka saya berusaha betul untuk memperbaiki diri dan berhati-hati agar orang lain tidak tersakiti oleh perbuatan saya.

Tapi saya tidak menyalahkan keadaan, karena saya tidak pernah tau dan mungkin tidak akan pernah bisa menjalani hidup dengan hati selapang ini ketika diberikan suatu kekurangan seperti si anak.

Jadi, saya memang tidak bisa melakukan apapun, dan tidak bisa sekedar mengingatkan sesuatu itu salah, karena saya tidak pernah berada di sepatu dia. maklum, kemudian sabar, dan berdoa bahwa semua ini pasti ada mksud dan hikmahnya.

Mungkin lika-liku hidup ini terjadi karena memang sebenarnya manusia tersebut mampu melewatinya. dan saya berdoa semoga si anak dan si bapak ini dapat melewati lika-liku hidup ini dengan baik dan berada di jalur yang lurus. Amiiiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar