Selasa, 08 April 2014

Underestimate

Someday, ada seorang temen gue yang notabenenya sangat rajin beribadah dan kita sama-sama mengikuti suatu kelas yang di sana kita dipaksa harus menggunakan bahasa inggris. dan kita masing-masing kebagian buat bertanya menggunakan bahasa inggris. lalu saya nervous dan berusaha menjelaskan apa yang saya maksud dengan tangan. dan setelah selesai kelas, mau tau dia bilang apa?

"Rat, pede lo bagus ya, tapi sayang gue ga ngerti bahasa inggris lo"

Oh, GOD! kalau kamu tau kenapa saya memilih s2 di sini karena saya TIDAK PANDAI BERBAHASA INGGRIS. At least i tried. groooooooook.

dan tahukah anda seberapa kesal saya sama makhluk satu ini yang katanya sangat taat dalam beragama? tapi seringkali membuat saya harus bersabar?

setiap saya sedang mengerjakan sesuatu di laptop, dia selalu mendekat dan melontarkan pertanyaan yang annoying, mengganggu, dan ingin tau banget, saya melakukan apa. karena secara kasat mata saya terlihat tidak pernah melakukan apa-apa, tidak mengerti apa-apa, dan tidak belajar apa-apa. tapi saya belajar bukan hanya sekedar pencitraan. saya belajar karena saya ingin bisa. HAH!

and i knew it from the beginning that he underestimated me. Bukankah seharusnya orang yang taat dengan agama dan tau dengan agama tidak boleh men-judge manusia? dan maaf saja secara kasar saya menyatakan bahwa mungkin anda harus kembali belajar agama dan mengerti bagaimana hubungan horisontal itu penting.

Sebenarnya saya sedang dalam taraf kesal dimana saya capek ditanya2 diolok2 jika saya sedang mengerjakan sesuatu di kampus. walaupun saya bersikap seolah-olah saya pemalas, tapi di saat kalian sedang tertidur, saya melakukan apa yang tidak kalian lakukan.

Tapi hal ini membuat hati saya menggebu-gebu bahwa saya harus lebih baik lagi dan lagi, dan berilmu lebih dan lebih, semoga tidak berlebihan dan melampaui batas. semoga hati saya dijaga untuk tidak terkena penyakit hati lagi, sehingga jika saya mengalami hal ini lagi, itu hanyalah anjing yang sedang menggonggong. dan saya sama sekali tidak terpengaruh.

selain itu, saya sedang memikirkan sesuatu yang membuat saya sutris.
saya pernah membaca sesuatu bahwa jika menikah adalah bukan dengan tujuan ingin bahagia, tetapi bertujuan ingin membuat pasangan anda untuk bahagia. it is all about giving, not receiving.

Jadi, bagaimana jika seseorang itu tidak membutuhkan apa-apa, dan tidak ada yang bisa saya berikan lagi?
Dan bagaimana jika seseorang itu menghentikan pemberiannya?
Masuk kriteria manakah itu?

karena terkadang saya merasa ini tidak sehat sama sekali. ada sesuatu yang salah, dan saya tidak tahu apa itu. bahkan ketika sudah sampai sejauh ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar