Senin, 14 Juli 2014

Kembali Ke Kodrat

Pembicaraan malam setelah buka ini menjadi pergejolakan di dalam diri saya. kebetulan topik ini adalah topik segala umat, baik laki-laki atau perempuan. wkwkwkwkw.

Mereka bilang, jadi wanita itu harus sabar dan pengertian.
lalu kami para wanita cuma bisa menyerukan, "ooooo...." yang panjang sekali. sebenarnya mungkin kami tidak mengerti petuah itu secara pasti, karena si bapak-bapak ini seakan-akan bercerita mengenai kehidupan mereka bersama perilaku istri yang ujung-ujungnya bisa ditarik satu benang merah, iya, wanita itu seharusnya sabar dan pengertian.

seperti kisah,,,
kenapa masih ada suami yang memberikan uang secara diam-diam ke ibunya? padahal jelas tertera juga di aturan bahwa laki-laki itu harus lebih mengutamakan ibu dibandingkan istri.
atau laki-laki harus terpaksa sembunyi-sembunyi untuk menghabiskan uangnya di barang-barang mahal yang mereka beli untuk hobi.
atau lebih baik mereka berbohong akan sesuatu dan tidak menjelaskan secara detail kepada si istri, daripada mereka harus melihat muka si istri masam seharian.

ohhh, ternyata wanita itu memang seperti itu ya. tidak heran jika dikatakan bahwa penghuni neraka kebanyakan wanita *entah kata siapa saya pernah dengar istlah seperti itu.

tapi kalian tahu, bahwa untuk menjadi sabar dan pengertian itu luar biasa sekali perjuangannya. bahkan saya sempat mempertanyakan kepada diri sendiri apakah saya akan bisa menjalani peran yang memang seharusnya sudah menjadi kodrat wanita harus menjadi seperti itu. karena ternyata untuk menjalani kodrat sebagai wanita yang harus lemah dan tidak boleh terlalu mandiri, tapi harus dituntut untuk mandiri juga itu terkadang berat sekali.

apalagi ketika jaman sudah tidak lagi berkata bahwa wanita harus berada di dapur saja. bayangkan bagaimana kami harus mengatur waktu untuk semuanya, untuk menyimpan energi ketika kembali ke rumah, atau ketika ingin dimanja lalu harus mengerti bahwa si laki-laki itu sedang banyak pikiran. atau tidak boleh lupa perhatian kepada suami walaupun anak adalah nomer satu. atau harus menerima uang berapapun yang suami berikan ketika itu tidak cukup, dan terpaksa kembali mencari uang untuk menyokong kehidupan keluarga. dan tidak boleh lupa harus kembali menjadi sosok wanita layaknya, tidak boleh terlalu dominan, harus bisa mandiri, tapi tidak boleh terlalu mandiri, dan harus menjadi sabar dan pengertian.

semuanya serba harus setengah-setengah. intinya pandai-pandai menempatkan diri. it is hard, isn't it?

lalu yang paling menyeramkan adalah ketika mereka terlalu mengagungkan ayah mereka dan sangat mengecam sikap kita untuk menjadi seperti ibu mereka. ah, pantaskah seorang anak mengeluhkan perilaku orang tuanya?

tapi tidak tahu, saya tidak tahu apa-apa, karena saya sama sekali belum memasuki kehidupan yang seperti itu. dan terlalu takut untuk memasuki kehidupan dimana saya harus mengontrol emosi saya, melupakan kebutuhan dasar wanita, dan lebih mementingkan orang lain.

iya, saya takut tidak bisa menjadi seperti yang orang-orang harapkan kepada saya. karena mungkin saya belum siap. karena bayangan fairy tale yang sering ada di film-film atau cerita-cerita itu hanyalah fiktif belaka. because we're just a human.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar